1

Ceramah/Bina mental ba'da sholat Ashar berlangsung di Musholla Al Mizan PTA Medan. Ceramah yang rutin dilaksanakan pada setiap hari Rabu bakda Ashar tersebut disampaikan oleh Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Medan secara bergiliran dan pada kesempatan awal tahun hari Rabu tanggal 4 Januari 2017 ini dimulai dengan tausyiah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan (Drs. H. Armia Ibrahim, S.H., M.H.)

 

Setelah sholat Ashar berjemaah yang diimami oleh Drs. H. Abdullah Tgk Nafi, S.H. yang diikuti para Hakim Tinggi, Pegawai, Pegawai Honor Pengadilan Tinggi Agama Medan dan anak-anak Praktek Kerja Lapangan (PKL), kemudian acara tausiah dimulai dan dibuka oleh moderator, Drs. Abd.Hafizun S.H., M.H. Dalam cermahnya Bapak Drs. H. Armia Ibrahim, S.H.,M.H. menguraikan dan mengupas tentang Muhasabah berdasarkan ayat Tafsir Surat Al Hasyr Ayat 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"

Kata َلْتَنْظُرْ (Nadzoro) artinya memperhatikan/menalar mengandung pengertian muhasabah, yang artinya menghisab atau menghitung, dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi, atau introspeksi diri. Dari firman Allah di atas tersirat suatu perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari akan datang (kehidupan dunia dan juga kehidupan akhirat) lebih baik.

2   3

Urgensi Muhasabah

Pergantian, hari, bulan dan tahun, mengisyaratkan sesungguhnya kehidupan dunia makin lama makin menjauh sedang kehidupan akhirat makin mendekat. Karena pada akhirnya kehidupan kita di dunia pasti akan berakhir dan akan masuk kepada kematian dimana Kita akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan. Firman Allah: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati" (Q. S. Ali Imran. 3:185); kemudian sesudah mati kita akan dihidupkan kembali, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati" (Q. S. Huud, 11:7).

Mempersiapkan Hari akhirat harus dilakukan sesegera mungkin karena kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Bisa saja ketika pagi hari kita beraktifitas dengan memakai baju sendiri dan ketika membuka baju telah dilakukan oleh Pemandi Mayat. Dalam melakukan muhasabah, seorang muslim menilai dirinya, apakah lebih banyak berbuat baik ataukah lebih banyak berbuat kesalahan. Evaluasi ini dlakukan menggunakan barometer Al Qur’an dan Sunnah dan bukan berdasarkan keinginan diri sendiri. Imam Turmudzi meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab). Muhasabah ini harus dilakukan karena pada hari Yaumul Hisab setiap manusia akan ditimbang amal kebaikan. Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ . فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ . وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ . فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ . نَارٌ حَامِيَةٌ 

"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu (yaitu) api yang sangat panas." (QS. Al-Qaari’ah: 6-11).

4   5

Aspek - Aspek yang perlu di-Muhasabah

Firman Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56

Berdasarkan ayat di atas, maka yang harus dimuhasabah meliputi seluruh aspek kehidupan kita, baik yang berhubungan dengan Allah (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah. Aspek - aspek yang perlu dievaluasi diantaranya adalah:

  1. Aspek Ibadah yang berhubungan dengan Allah; Mulailah dengan hal-hal yang berkaitan dengan rukun Islam seperti, sholat (apakah sholat sudah khusuk, apakah sudah terpelihara dari riya dan telah dilaksanakan dengan ikhlas) puasa , zakat , dan juga ibadah sunah kita serta bagaimana pelaksanaan rukun iman kita, dll
  2. Kemudian mengingat apakah kewajiban yang berkaitan dengan sesama manusia seperti orang tua kita, istri, suami, anak ( tentang agama anak-anak kita) saudara, tetangga, teman di tempat kerja, ummat dll.,
  3. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki; aspek ini sering dilupakan bahkan ditinggalkan dan tidak dipedulikan. Karena aspek ini diangggap semata-mata urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya., padahal sesungguhnya dapat menjadi jalan bagi krhidupsn akhiratnya.
  4. Aspek Kehidupan Sosial; aspek kehidupan sosial dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat dan manusia yang paling buruk adalah yang dihormati karena takut dan zholim.
  5. Aspek Dakwah/Amar Ma'ruf; Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da'wah

itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.

Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan

Hadits Rasulullah dengan sabdanya, "Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya." Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim..

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat, tetapi memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Apabila ia mendapati dirinya melakukan perbuatan baik (‘amal shalih) dalam mentaati Allah (tha’ah), maka ia akan bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya apabila ia mendapati perbuatan dosa dan melanggar aturan Allah (ma’shiyat), maka ia akan menyesali perbuatan tersebut dengan memohon ampun kepada Allah atas kesalahannya (beristigfar) dan kembali kepadaNya (bertaubat) serta kemudian melakukan kompensasi kesalahan itu dengan memperbanyak perbuatan baik. (zuh)

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg