MENGHADAP KIBLAT DALAM SHALAT.
Erlan Naofal, S.Ag, M.Ag[1]

Judul tulisan ini terinspirasi dari obrolan ringan sambil makan makanan ringan
selepas pengajian rutin malam Jum'at tanggal 17 Juli 2010 di Perumnas Kalang
Simbara Permai Sidikalang-Sumut yang dikenal dengan istilah "wirid" yang agenda
utamanya adalah pembacaan surat Yasin, tahtim Alquran dan kultum singkat yang
pelaksanaannya dari rumah kerumah. Dalam obrolan ringan tersebut banyak hal yang
dibicarakan salah satunya berkaitan dengan masalah menghadap ka'bah dalam shalat
yang lagi ramai dibicarakan oleh berbagai media terkait adanya kesempatan yang
bisa digunakan untuk mengukur ketepatan arah kiblat yaitu hari Jum'at 16.27
karena pada saat itu, menurut pakar astronomi, matahari terletak tepat diatas
Ka'bah.
Shalat merupakan tiangnya agama sehingga barangsiapa yang mendirikan shalat
berarti orang tersebut telah mendirikan agamanya dan barangsiapa yang
meninggalkan shalat, maka orang itu telah menghancurkan agamanya. Shalat juga
merupakan pembeda antara orang muslim dan orang kafir dan orang yang
meninggalkan shalat secara sengaja, maka ia telah kufur. Disamping itu, shalat
juga merupakan amal ibadah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak dan
mulus tidaknya amal-amal ibadah yang lain tergantung mulus tidaknya shalat.
Oleh karena sangat urgennya shalat, maka setiap orang muslim mesti melaksanakan
shalat dengan sebaik-baiknya sehingga shalatnya sah dan diterima sebagai ibadah
disisi Allah. Agar shalat menjadi sah maka mesti memenuhi rukun dan syarat
sahnya shalat.

Dan diantara syarat sahnya[2] shalat yang mesti diperhatikan oleh setiap yang
akan melaksanakan shalat adalah menghadap ke arah kiblat (istiqbalul Qiblat)
kecuali shalat khauf, shalat sunnat dalam kendaraan dan shalatnya orang yang
tidak tahu arah kiblat sama sekali.
Kiblat shalat umat Islam pada awal masa Rasulullah saw adalah menghadap kearah
mesjid Baitul Maqdis yang merupakan kiblat para nabi sebelumnya (selain nabi
Ibrahim) dan ini dilakukan selama kurang lebih 16 sampai 17 bulan. Lalu Allah
memerintahkan agar kaum muslimin memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke
arah Mesjidil Haram sebagaimana terdapat dalam Alqur'an Surat 144.

قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث
ما كنتم فولوا وجوهكم شطره وإن الذين أوتوا الكتاب ليعلمون أنه الحق من ربهم وما
الله بغافل عما يعملون (البقرة:144)
Artinya:"Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka akan kami
palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja engkau berada , hadapkanlah wajahmu ke arah itu
dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa
(pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak akan
lengah terhadap apa yang mereka kerjakan".Berkaitan dengan asbabunnuzul ayat diatas, Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh 'Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas yang menyebutkan
bahwa ketika Rasulullah hijrah ke Medinah yang mana kebanyakan penduduknya orang
yahudi, Allah memerintahkan Rasul agar shalat menghadap ke Baitul Maqdis, hal
ini membuat orang-orang Yahudi merasa senang sedangkan Rasulullah saw
menginginkan shalat menghadap ke arah ka'bah yang merupakan kiblatnya Nabi
Ibrahim sehingga setiap selesai melaksanakan shalat, Rasulullah berdo'a agar
kiblat dipindahkan ke arah ka'bah sembari melihat-lihat ke atas langit sehingga
turunlah ayat diatas.[3]
Berkaitan dengan perintah menghadap kiblat sebagaimana terdapat dalam ayat
diatas ( فول وجهك شطر المسجد الحرام), para ulama terbagi dua pendapat yaitu:

1. Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang wajib dalam menghadap
kiblat adalah 'Ainul Ka'bah ( menghadap tepat ke ka'bah itu sendiri).
2. Hanafiah dan Malikiah berpendapat bahwa yang wajib dalam menghadap
kiblat adalah "Jihatul Ka'bah" (menghadap kearah ka'bah).
Sebenarnya perbedaan diatas, berkaitan dengan orang yang shalat tidak langsung
melihat ka'bah adapun bagi orang yang melihat langsung ka'bah maka para ulama
sepakat menyatakan bahwa wajib bagi orang yang dekat dengan ka'bah "Ishabatu
'ainil ka'bah" (menghadap tepat ke bangunan ka'bah itu sendiri). Adapun bagi
orang yang tidak secara langsung melihat ka'bah karena jauh jaraknya, maka
menurut pendapat yang pertama diatas, ia mesti bermaksud/meyakini tepat (qasdul
ishabat) ke ka'bah dengan menghadap ke arah (jihat)ka'bah atau dengan kata lain
memiliki dugaan kuat (ghalabatudzonn) telah tepat mengarah ke ka'bah. Sedangkan
menurut pendapat kedua cukup dengan menghadap arah kiblat/ka'bah tanpa perlu ada
qasdul ishabat. [4]
Jadi sebenarnya, kalau kita kaji lebih teliti pendapat pertama pun tidak
mengharuskan secara dzahir harus tepat menghadap ka'bah tetapi menghadap ke arah
ka'bah pun sudah cukup tetapi harus disertai dengan keyakinan kuat bahwa arah
kita tepat menghadap ka'bah.
Dan berkaitan dengan perbedaan pendapat tersebut diatas mengacu kepada pendapat
Abdul Wahab al-Sya'rani[5] yangmenyatakan bahwa perbedaan pendapat dikalangan
para mujtahid dapat dikelompokkan kepada dua kategori yaitu ada yang tahfif
(mempermudah) dan ada yang tasydid (bersikap ketat) dan penerapannya bersifat
situasional dan kondisional apalagi jika kita telaah lebih lanjut kedua pendapat
tersebut sangat argumentatif dan otoritatif. Jadi pendapat pertama yaitu yang
dikemukakan oleh Syafi'iyah dan Hanabilah bersifat Tasydid sedangkan pendapat
kedua yang dikemukakan oleh Hanafi'ah dan Malikiah bersifat Tahfif. Oleh karena
itu, pendapat manapun yang akan kita ambil, maka sebuah keharusan bagi kita
mengetahui dan memahami dalil-dalil yang dijadikan landasan ulama tersebut
diiringi sikap tasamuh (toleran/menghargai) pendapat lainnya selama pendapat
yang lainnya bersifat argumentatif (ada dasarnya dari Alqur'an maupun Hadits).
Sidikalang, Malam Jum'at 17 Juli 2010.


D A F T A R P U S T A K A
1. Ali As-Shabuni, Rawa'iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Min Alqur'an
2. Taqiyyudin, Kifayatul Akhyar Fi Hilli Ghayatil Ikhtishar
3. Wahab Sya'rani, al-Mizan al-Kubra, ( Semarang , Maktabah Thaha)
4. Tafsir Ibnu Katsir dalam Programal-Maktabah al-Syamilah.

  • 807-d-bahrin.jpg
  • 808-d-syukron.jpg
  • 809-d-syarifuddin.jpg
  • 900-d-parlan.jpg
  • 901-s-basuni.jpg
  • 901-s-mazharuddin.jpg
  • 902-s-syaifuddin.jpg
  • 903-s-syaiful.jpg
  • 904-s-abdullah.jpg
  • 905-s-nurhayati.jpg
  • 906-s-jamaluddin.jpg