KRITERIA KESAHIHAN HADITS

ERLAN NAOFAL, S.Ag, M.Ag. [1]

Hakim PA. Sidikalang

Pendahuluan

Sudah menjadi aksioma dikalangan umat Islam bahwa Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Alquran.[2] Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan tujuan menjelaskan ayat-ayat Allah dalam alquran sebagai pedoman hidup manusia. Penjelasan Nabi terhadap Alquran dalam terminologi ulama dikenal dengan sebutan hadits.

Sikap terhadap Hadits seperti ini nampak terlihat sejak masa Nabi Muhammad hidup, masa shahabat, tabiin bahkan sampai saat ini. Pada masa Nabi masih hidup, para shahabat jika menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat Alquran atau menemukan problema yang tidak mereka temukan penyelesaiannya dalam Hadits, mereka langsung bertanya kepada Nabi sebagai personifikasi Hadits.[3] Hal ini sebagaimana yang mereka lakukan tatkala mereka menemukan keberatan dan kesulitan dalam memahami kata al-zhulm dalam Alquran Surat al-Anam ayat 82 berikut:

الذين أمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم اولئك لهم الأمن و هم مهتدون

Kemudian Rasul menjawab kesulitan yang dirasakan para shahabat dengan menyebutkan bahwa maksud kata al-zhulm dalam ayat tersebut adalah syirk.[4]

Menurut M.M A'zhami, Rasul dalam mensosialisasikan Hadits mengambil langkah-langkah sebagai berikut[5]:

1. Mendirikan sekolah. Hal ini dilakukan oleh Nabi setelah beliau hijrah ke Madinah. Disamping itu, Rasul mengutus beberapa orang guru dan khatib ke berbagai penjuru diluar Madinah dan memberikan perintah untuk menyampaikan apa saja yang diterimanya dari Nabi. Beliau bersabda;"sampaikanlah pengetahuan dariku walau hanya satu ayat."

2. Memberikan rangsangan bagi pengajar dan penuntut ilmu dengan memberikan janji yang akan diperoleh oleh orang yang menyampaikan dan mencari ilmu.

Meskipun mendapatkan perhatian yang cukup baik, tapi dalam kenyataannya hadits berbeda dengan Alquran yang disepakati dan diakui sebagai qath'iy al-wurud karena proses periwayatannya yang bersipat tawatur. Sedangkan Hadits bersipat sebaliknya. Proses periwayatannya lebih banyak bersipat ahad dan sedikit sekali yang bersipat mutawatir.[6]

Selengkapnya.....

  • 807-d-bahrin.jpg
  • 808-d-syukron.jpg
  • 809-d-syarifuddin.jpg
  • 900-d-parlan.jpg
  • 901-s-basuni.jpg
  • 901-s-mazharuddin.jpg
  • 902-s-syaifuddin.jpg
  • 903-s-syaiful.jpg
  • 904-s-abdullah.jpg
  • 905-s-nurhayati.jpg
  • 906-s-jamaluddin.jpg