KEDUDUKAN  TUOR DALAM ADAT PERKAWINAN  MANDAILING DAN KAITANNYA DENGAN PERJANJIAN PERKAWINAN

OLEH : ROLI WILPA, S.HI



ABSTRAK

Tuor merupakan sejenis mahar yang menjadi tradisi turun terumurun dalam kehidupan kultur mandaling. Tuor disamping menjadi hukum yang tidak tertulis namun memiliki nilai historis dan sosiologis yang subtantif. Dalam sistem perkawinan menurut Hukum Islam Mahar telah menjadi ketentuan yang mengikat dan prasyarat perkawinan. Hukum telah memberikan celah bahwa sengketa mahar dapat diselesaikan di Pengadilan Agama, namun jika dikaitkan dengan perjanjian perkawinan, maka memunculkan permasalahan baru yaitu bagaimana kedudukan tuor dalam posisi berakhirnya sebuah perkawinan.

Keyword : Tuor, Mahar, Perjanjian Perkawinan

A.    PENDAHULUAN
Suku Mandailing atau juga disebut Batak Mandailing merupakan nama suku bangsa yang mendiami sebagian Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang juga dikategorikan sebagai bagian dari suku Batak, yang mempunyai banyak dialek bahasa.

Ada beberapa kultur yang masing melekat dalam tradisi masyarakat hingga saat ini. Diantaranya adalah tradisi perkawinan dengan mahar secara adat yang dikenal dengan tuor. Tuor merupakan mahar yang diberikan oleh calon suami kepada calon isteri yang ditetapkan dengan perjanjian adat. Sehingga menjadi marwah bagi seseorang apabila ia mampu memberikan tuor dengan jumlah yang besar bagi calon suami, demikian sebaliknya seorang calon isteri akan merasa amat berharga jika dibayar dengan tuor berjumlah besar.

Baca Selengkapnya

  • 807-d-bahrin.jpg
  • 808-d-syukron.jpg
  • 809-d-syarifuddin.jpg
  • 900-d-parlan.jpg
  • 901-s-basuni.jpg
  • 901-s-mazharuddin.jpg
  • 902-s-syaifuddin.jpg
  • 903-s-syaiful.jpg
  • 904-s-abdullah.jpg
  • 905-s-nurhayati.jpg
  • 906-s-jamaluddin.jpg