PENGARUH TEORI RECEPTIE TERHADAP PERKEMBANGAN PENGADILAN AGAMA DI INDONESIA

(Suatu Kajian  Dalam Konteks Sejarah Peradilan Agama )

Drs. H. Ahmad Rasidi, SH, MH

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Abstract

Lahirnya UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama telah mempertegas kedudukan dan kekuasaan Peradilan Agama sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 UU No.14 tahun 1970 dengan perubahannya, juga memurnikan fungsi dan susunan organisasinya agar dapat mencapai tingkat sebagai lembaga kekuasaan kehakiman yang sebenarnya tidaklah lumpuh dan semu sebagaimana masa sebelumnya. Namun dalam perkembangannya selalu mendapat tantangan dan rintangan, hal ini tidak terlepas dari masih kentalnya pemahaman dan pengaruh teori receptie yang menjadi “warisan”  C. Snouck Hurgronjed kk di Indonesia.Oleh karena itu Pejabat Peradilan harus selalu meningkatkan profesionalsmenya ,menuju Peradilan Agama yang semakin baik.

A.     PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Sejarah Perjalanan Peradilan Agama mengalami pasang surut. Adakalanya wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Pada kesempatan lain kekuasaan dan wewenangnya dibatasi dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan, bahkan seringkali mengalami berbagai rekayasa dari penguasa (Kolonial Belanda) dan golongan masyarakat tertentu agar posisi pengadilan agama melemah.

Baca Selengkapnya

  • 807-d-bahrin.jpg
  • 808-d-syukron.jpg
  • 809-d-syarifuddin.jpg
  • 900-d-parlan.jpg
  • 901-s-basuni.jpg
  • 901-s-mazharuddin.jpg
  • 902-s-syaifuddin.jpg
  • 903-s-syaiful.jpg
  • 904-s-abdullah.jpg
  • 905-s-nurhayati.jpg
  • 906-s-jamaluddin.jpg