Visi dan Misi Muhammad Saw

Disampaikan pada kegiatan Bintal PA Stabat, hari Kamis 6 Maret 2014 Salah satu faktor yang menyebabkan manusia tidak teratur dalam menjalani kehidupan ini karena  kehilangan pembimbing. Dalam hal ini adalah pembimbing yang diutus Allah Swt sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Panjangnya rentang waktu antara Nabi Isa as. dan Nabi Muhammad Saw. yang sampai ratusan tahun lamanya, menjadikan manusia kehilangan kendali dalam mengharungi kehidupan. Kondisi tersebut dikenal dalam sejarah sebagai zaman jahiliyah. Di zaman tersebut ahklak manusia sudah rusak; dengan kata lain pri-kemanusia-an telah bertukar menjadi pri-kebitang-an.

Bentuk kejahiliyahan itu terlihat dalam banyak hal, antara lain aspek kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lawan jenis. Sampai-sampai pada salah satu bentuk pernikahan mereka, dilakukan dengan cara; wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’ (menyetubuhinya). Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundanglah seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapak anak tersebut, kemudian sang bapak harus menerimanya. Dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, seperti bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup karena takut miskin dan hina.

Kehadiran Rasulullah Muhammad Saw di tengah-tengah ummat yang sedang mengalami kemerosotan moral merupakan suatu keniscayaan. Berbekal wahyu ilahi dan kecerdasan spritual serta dukungan berbagai pihak, Rasul berupaya melakukan perubahan yang mendasar yakni “mengembalikan kemuliaan manusia keposisi yang sesungguhnya“, dengan cara yang efektif.Dan untuk mempercepat keberhasilan keinginan tersebut, terlebih dahulu merumuskan visi dan misi dakwah beliau.

Visi Rasul dalam berdakwah adalah “memanusiakan manusia”. Hal ini dapat difahami dari ungkapan beliau: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Kemuliaan manusia sangat ditentukan dari akhlaknya. Dengan kata lain “akhlak” merupakan tolok ukur untuk tinggi rendahnya atau mulia/hinanya keberadaan seseorang. Dengan demikian sangat beralasan jika Rasulullah Saw menentukan visi tersebut diatas.

Selanjutnya untuk mewujudkan visi, terlebih dahulu Rasulullah Saw merumuskan misi yakni langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai visi. Adapun misi Rasulullah Saw adalah “amar ma’ruf nahi mungkar”. Rasulullah Saw mengajak orang-orang untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan larangan. Metoda yang digunakan Rasulullah Saw pun sangat sederhana dan mudah ditiru karena sebelum Rasulullah Saw mengatakan dan atau melakukan sesuatu, terlebih dahulu beliau yang mempraktekkannya (dakwah bi al hal), jadi tidak sulit bagi orang lain untuk mencontohnya.

Melalui visi dan misi tersebut, Rasulullah Saw sukses mengantarkan masyarakatnya meraih posisi kemulian, sesuai dengan gelar kehormatan yang dianugerahkan Allah terhadap manusia yakni “sungguh kami telah muliakan anak cucu adam”. Keberhasilan yang di raih Rasulullah Saw, tentu karena beliau benar-benar memposisikan diri sebagai tauladan ummat. Dan ketauladanan Rasulullah Saw tergambar pada sikap dan tindak tanduk beliau sehari-hari serta kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dari visi dan misi Rasulullah Saw. Amin.

sumber: www.pa-stabat.net (10/03/2014)

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg