Bintal PA Stabat
Mensyukuri Nikmat ALLAH SWT.

Stabat, pa-stabat.net (28/01)
Siraman rohani pagi hari ini disampaikan oleh ustadzah Dra. Hj. Rosnah Zaleha, hakim senior (C1) dan pembacaan ayat suci Al Qur’an dilantunkan oleh Khairuddin, S.H.I yang bertetmpat di Mushalla Pengadilan Agama Stabat.
Ustadzah memulai ceramahnya dengan membacakan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 152.
[فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ [البقرة : 152]
“ ...Maka igatlah kepada Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu ,Bersyukurlah kepada Ku ,Dan janganlah kamu ingkar kepada Ku “. ( Qs. Al Baqarah : 152)

Dijelaskan dalam tafsir As-Sa’di karangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di bahwa:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu”
Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengingat-Nya, dan menjanjikan baginya sebaik-baik balasan yaitu bahwa Allah akan mengingatnya pula, yaitu bagi orang yang ingat kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
Dzikir kepada Allah yang paling istimewa adalah dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan yaitu dzikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari –Nya. Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman:
وَاشْكُرُوا لِي
“Dan bersyukurlah kepada Ku”.
Bersyukur atau syukur atas nikmat yang diberikan oleh Alloh Swt merupakan bentuk suatu ibadah yang sangat indah dan mulia dihadapan Alloh Swt. serta akan merasakan perasaan bahagia bagi yang melaksanakannya, dimana ada suatu bentuk kesadaran hati atas segala pemberian nikmat dari Alloh Swt.
Syukur itu dapat diwujudkan dalam 3 kategori :
Syukur I'tiqodi (Syukur dengan Hati)
Yang artinya keyakinan seorang hamba akan apapun yang tiba pada dirinya yang sesuai dengan kebutuhan dan tidak ada celaan dari agama pada akhirnya. nikmat itu merupakan pemberian muthlaq Alloh Swt yang berupa bentuk kasih sayangnya semata-mata. yang merupakan suatu ujian dimana akan menguji kita apakah nikmat tersebut bisa kita pakai sebagai sarana untuk beribadah kepadanya atau tidak?
Syukur Lisani (Syukur dengan lisan)
Yaitu suatu ucapan atau bahasa yang menunjukkan kepada kebahagiaan hati dengan adanya nikmat. dengan apapun ucapannnya yang penting menunjukkan pada pengakuan hati kepada nikmat dari Alloh Swt, seperti perkatan : "Alhamdulillahi Robbil 'alamiin", atau "Alhamdulillahi 'ala Kulli Hallin," atau yang bersifat khusus seperti Alhamdulillahilladzi ath'amanaa Wa Saqoona, dan puji-pujian yang lainnya.
Syukur bila dikaitkan dengan nikmat yang khusus maka wajib hukumnya seperti "Alhamdulillah 'ala ni'matil iimaani wal islam" atau ketika kita memperoleh nikmat atau sesuatu pemberian lewat tangan orang lain maka kita jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih (syukur). karena Rasulullah Saw bersabda :
"Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Alloh Swt."
Syukur Arkani (Syukur dengan perbuatan)
Yaitu Syukur yang dilaksanakan dengan cara Memanfaatkan nikmat untuk beribadah kepada Alloh Swt, Seperti Mensyukuri Nikmat melihat dipakai untuk membaca Al-Quran, atau Mensyukuri Nikmat mendengar maka digunakan untuk mendengarkan nasihat, atau syukur terhadap jabatan atau kekuasaaan maka digunakan untuk menegakkan keadilan. atau mensyukuri nikmat harta dengan cara bersedekah, atau syukur terhadap nikmat sehat akal, yaitu dengan cara menuntut ilmu, dan lain sebagainya.

Syukur yang semuanya ini kalau kita terapkan dipakai dalam pendorong dalam beribadah maka Insya Alloh akan meningkatkan nilai ibadah dan dijanjikan akan ditambah-tambah nikmat baik dari segi kualitas maupun kuantitas nikmatnya. Sebagaimana Firman Alloh.
:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs. Ibrahim :7)

Dan ketika kebalikan dari rasa syukur adalah pengingkaran maka Allah melarang pengingkaran tersebut seraya berfirman :
وَلَا تَكْفُرُونِ
.”Dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”

Maksud dari pengingkaran disini adalah satu hal yang bertolak belakang dengan bersyukur yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan dan menampiknya serta tidak bersyukur kapada-Nya. Kemungkinan juga maknanya bersifat umum, maka pengingkaran terhadap Allah adalah pengingkaran yang paling besar, kemudian bermacam-macam kemaksiatan dengan segala bentuk dan jenisya dari kesyirikan dan selainnya.

 


Di akhir acara bina mental seperti biasanya, ditutup dengan doa oleh Drs. Muhammad Arsyad Harahap, S.H. (rzl).

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg