WAKA SYUKRI : RAMADHAN DAN PROSES PENSUCIAN JIWA.

(13/06/2016/PA.PSP) Ramadhan dan proses pensucian jiwa atau Ramadhan wa tazkiatun nafsi, itulah yang menjadi tema tausiyah Ramadhan hari ke 8 di Pengadilan Agama Padangsidimpuan. Tausiyah sehabis shalat zuhur tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Padangsidimpuan Drs. M. Syukri dengan penuh hikmat dan penghayatan mendalam.dengan dihadiri para Jama’ah segenap unsur pimpinan dan pegawai Pengadilan Agama Padangsidimpuan.

Dalam tausyiah lebih kurang 30 menit itu, pak waka begitu panggilan akrabnya mengupas panjang lebar tentang proses pensucian jiwa melalui ibadah puasa, yang dimulai sejak masuk bulan Rajab, Syakban dimana kita sudah mulai diwanti-wanti oleh Rasul untuk menyiapkan diri menyongsong datangnya bulan ramadhan, kemudian masuk bulan Ramadhan kita sudah ready untuk mengikuti proses pensucian jiwa dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Jelas syukri yang baru bertugas tiga bulan di PA. Padangsidimpuan itu.

Dalam ajaran islam, banyak sarana ibadah yang disyari’atkan yang berfungsi untuk mensucikan keyakinan, jiwa dan harta. Untuk mensucikan agidah (keyakinan) agar kita tidak mensyarikatkan Allah melalui media Tauhid, dimana seorang muslim yang beriman harus menstrilkan aqidahnya dari syirik, bid’ah, tahayul dan khurafat. Aqidah merupakan fondasi keimanan seorang muslim, bilamana aqidah kita goyah, rapuh dan luntur maka dapat dipastikan seorang muslim akan tercerabut dari inti ajaran Islam, kenapa ? karena aqidah merupakan sumber ide dan kegiatan atau central of idea bagi seorang muslim. Oleh karenanya untuk memantapkan aqidah seorang muslim dan muslimah diwajibkan untuk mempelajari ilmu Tauhid minimal secara mujmal (umum) disamping itu juga mempelajari ilmu tasauf. Papar putra Aceh tersebut.

Lalu kemudian untuk mensucikan jiwa, hati dan pikiran kita, syari’at menyiapkan media ibdah yang bernama puasa disamping ibadah lain seperti shalat dan haji. Puasa yang kita lakukan mulai dari waktu imsak sampai berbuka intinya adalah bagaimana kita mempu mengendalikan hawa nafsu berjalan sesuai dengan koridornya. Artinya potensi atau daya nafsu yang kita milki sebagai anugrah yang tak terhingga dari Allah SWT tidak melampaui batas-batas yang ditetapkan syar’iat. Kita diberikan Allah Nafsu marah/emosi misalnya, bagaimana nafsu marah/emosi tersebut dikelalola agar tidak muncul perkelahian, tawuran, dan peperangan. Kita diberi Allah SWT nafsu Konsumtif (bathniyah) lalu bagaimana nafus konsumtif tersebut tidak melahirkan sikap serakah, tamak bakhil dan koruptif, begitu juga Allah berikan kita nafsu syahwat (seksual), kemudian bagaimna kita menempatkan dan mengkelola nafsu tersebut agar kita terhindar dari perbuatan zina, pergaulan bebas, lesbian, Gay, Bio Seksual dan trans seksual yang akhir ini dikenal dengan istilah (LGBT). Syar’iat telah memberikan jalan keluar yang mulia dan penuh keadaban yaitu melalui pernikahan bukan perselingkuhan.

Kemudian untuk mensucikan harta kita, Allah SWT telah mensyari’atkan zakat, wakaf infag dan shadaqah, dimana selama kita berusaha mencari rizki mungkin ada diluar dugaan kita hal-hal yang kurang baik kita lakukan, maka zakatlah yang dapat berfungsi untuk membersihkannya, sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al-Taubah: 103) “Ambillah zakat dari sebagiam harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoakan untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Disamping itu syari’at juga menanamkan bagi kita bahwa keberhasilan usaha yang kita jalankan sehingga memperoleh laba atau keuntungan, tidak sepenuhnya andil kita sendiri, tetapi keuntungan yang kita peroleh melibat orang lain termasuk diantaranya fakir miskin, oleh karena tidak semua harta yang kita miliki adalah milik kita, disana masih melekat hak orang lain yaitu fakir, miskin dan kaum dhu’afa (lemah), tandasnya.

Betapa indah dan mulianya syar’iat Islam ini, dan kita bersyukur kepada Allah kiranya kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk dapat menjalankan dan melaksanakan ibadah puasa ini,dan masing-masing ibadah yang telah disayari’atkan memilki titik central yang berbeda. Dan Ibadah puasa yang kita jalankan saat ini menjadi media untuk proses pensucian jiwa kita menuju Allah SWT. (admin PA.Psp)

(sumber : pa-padangsidempuan.net(24/06/16))

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg