1

Zaman atau waktu adalah momentum untuk berprestasi. Wal ‘ashri demi waktu ashar. Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu. Yang tak mampu menggunakan waktu dialah orang yang dijamin bakal rugi, persis orang yang sudah mati. Karena hidupnya seperti mayat yang beku, hidup tak sopan mati bikin bau (wujuduhu ka ‘adamihi = keberadaannya seperti tidak ada), karena tidak ada guananya, tak ada yang menganggap dan menghiraukan. Bahkan banyak yang menyesali dan merutuki, mengapa orang seperti ini kok masih hidup, malah panjang umur ?.

2

Memanfaatkan kesempatan hidup dengan beraktifitas yang positif/amal shalih merupakan citra orang yang cerdas dengan semboyan addun ya mazro’atul akhirah (dunia ini adalah ladang untuk akhirat) untuk menepis kemungkinan jadi orang yang merugi.

Kecerdasan orang beriman adalah kecerdasan menangkap hikmah dibalik semua kisah/ kejadian. Kisahataukejadian tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, planet dan langit serta lautan, subhanallah yang membuat orang beriman semakin dekat kepada Allah swt.

Allah menciptakan tidak hanya sekedar ciptaan tapi semua kejadian adalah ciptaannya, itulah ayat-ayat Nya yang harus dibaca, karena ciptaan Allah tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang tidak ada makna dan tidak ada ciptaan Nya yang sia-sia.

Kecerdasan orang beriman wabil khusus warga Pengadilan Agama Stabat dalam membaca ayat-ayat Allah baik tersurat (yang bersuara/Al Qur’an) seperti surah Al Ashr, umpamanya atau membaca ayat Allah yang tidak bersuara seperti penomena alam dengan memanfaatkan waktu yang masih tersisa ini yang begitu singkat dengan meyakini bahwa hidup manusia di hadapan Allah hanya antara huruf kaf (ك ) dan huruf nun ( ن ) dalam kata ان الناس امام الله بين الكاف والنون ان يشاء يكن وان لم يشاء لم يكون = sungguh manusia dihadapan Allah hanya antara kaf dan nun jika Allah menghendaki jadilah manusia itu, jika Allah tidak menghendaki tak jadi. untuk beraktifitas yang shalih, jadilah khairunnas anfa’uhum linnas = manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, karena sikap ihsan yang tertanam dalam lubuk hati warga Pengadilan agama stabat yang dilandasi keyakinan fainama tuwalluu fatsamma wajhullah (dimana saja kamu hadapkan wajahmu disana ada zat Allah) dengan penuh keyakinan bahwa Allah tetap melihat/memantau/meliput apapun yang diperbuat.

Demikian sekilas untaian taushiyah yang disampaikan oleh Bapak Drs.Bakti Ritongan, S.H., M.H. yang disampaikan dalam program Bintal Pengadilan Agama Stabat pada hari Kamis tanggal 3 Agustus 2017 yang dikemas dalam bingkai bintal wada’.

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg