Indeks Artikel

HAKIKAT IMAN[1]

Oleh: Erlan Naofal, S.Ag, M.Ag[2]

Iman secara etimologi artinya mempercayai.[3] Percaya berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan dari mengenal dan mengetahui(ma'rifat)[4]. Dalam arti kepercayaan terhadap sesuatu itu tumbuh dengan dilandasi dan didasari pengetahuan dan pengenalan terhadapnya. Jika seseorang mempercayai sesuatu maka dia mengetahui dan mengenalnya. Dalam Khasyiyah Jami' al-Shahih lil imam al-Bukhari disebutkan bahwa kadar dan tingkat keimanan seseorang kepada Allah itu tergantung pada sejauh mana kadar pengetahuan dan pengenalan (ma’rifatullah) orang tersebut kepada Allah.[5] Jadi seseorang yang beriman kepada Allah, maka tentunya dia mengetahui dan mengenal Allah. Mengenal dan mengetahui Allah berbeda dengan mengenal makhluk-Nya. Mengenal dan mengetahui Allah adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya, perintah-Nya dan larangan-Nya yang dapat diperoleh dengan cara men-tadabburi dan men-tafakuri ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyat/tersirat di alam raya maupun ayat qur'aniyat/tersurat dan tertulis dalam Qur'an. Meskipun demikian, tidaklah merupakan kemestian orang yang mengetahui sesuatu otomatis mempercayai dan mengimaninya. Adakalanya mengetahui sesuatu tetapi tidak mengimaninya seperti iblis yang mengetahui (ma'rifat) terhadap Allah, tetapi dia tidak mengimani dan tidak mau tunduk pada perintah Allah SWT.

Sedangkan menurut terminologi[6], iman diformulasikan sebagai pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan yang dibuktikan dengan perbuatan dan karya nyata (amal)[7].

Iman memiliki tiga sifat yaitu[8]: Pertama, iman itu bersifat abstrak dengan pengertian manusia tidak dapat mengetahui dan mengukur kadar keimanan orang lain. Iman bersifat abstrak karena iman ada dalam hati dan isi hati tidak ada yang tahu kecuali Allah dan orang tersebut. Namun meskipun demikian ada sebuah hadits yang memberi petunjuk kepada kita bahwa meskipun iman itu bersifat abstrak, tetapi iman dapat diidentifikasi dari amaliah dan ketaatan seseorang dalam menjalankan agamanya. Nabi bersabda:

Artinya:"Apabila kamu melihat seorang laki-laki membiasakan dirinya pergi ke mesjid (untuk menunaikan ibadah), maka persaksikanlah bahwa orang tersebut beriman"(al-Hadits).[9] Kedua, iman bersifat fluktuatif artinya naik turun, bertambah dan berkurang, bertambah karena melaksanakan keta'atan dan berkurang karena melakukan kemaksiatan[10]. Kondisi iman bersifat fluktuatif ini karena iman bertempat dalam hati yang mana karakter dasar hati adalah berubah-ubah dan tidak tetap dalam satu kondisi, hati kadang senang, sedih, marah, rindu, cinta, benci sehingga dalam bahasa Arab hati dinamai qalbun yang artinya bolak-balik dan tidak tetap dalam satu kondisi.

Abu Musa al-‘Asy’ari menyebutkan:"sesungguhnya hati disebut qalbun tiada lain karena hati selalu bolak-balik dan berubah.[11]. Oleh karena itu iman mesti dijaga dan dipupuk. Iman itu ibarat tanaman yang mesti dipupuk dan pelihara dengan baik. Karena apabila iman tidak dipelihara dan dipupuk bisa saja iman itu mati ataupun kalau tidak mati, iman itu tidak akan tumbuh dengan baik dan tidak akan berbuah amal kebajikan seperti tanaman yang tidak terurus dan ditelantarkan yang mungkin mati atau mungkin hidup tetapi tidak berbuah dan tidak menghasilkan.

Diantara hal-hal yang harus dilakukan untuk memelihara dan memupuk keimanan adalah men-tadaburi ayat-ayat Alqur'an, men-tafakkuri ciptaan-ciptaan Allah, berdzikir, berdo'a kepada Allah agar diberi anugrah iman yang kuat[12] dan senantiasa mengamalkan ajaran-ajaran agama dengan konsisten. Dalam sebuah Hadits Nabi bersabda:"Perbaharuilah imanmu". Lalu para shahabat bertanya kepada Rasul:"Bagaimana kami memperbaharui iman kami. Beliau menjawab:"Perbanyaklah menyebut La Ilaha Illallah".[13] Ketiga, iman itu bertingkat-tingkat. Artinya tingkat dan kadar keimanan dalam hati orang beriman itu berbeda dan tidak sama, ada yang kuat, ada yang sedang dan ada yang lemah imannya.

  • 807-d-bahrin.jpg
  • 808-d-syukron.jpg
  • 809-d-syarifuddin.jpg
  • 900-d-parlan.jpg
  • 901-s-basuni.jpg
  • 901-s-mazharuddin.jpg
  • 902-s-syaifuddin.jpg
  • 903-s-syaiful.jpg
  • 904-s-abdullah.jpg
  • 905-s-nurhayati.jpg
  • 906-s-jamaluddin.jpg